Sabtu, 06 Oktober 2012

Tugas 2 Peluang Usaha


Peluang Usaha ?
Bagaimana kita dapat melihat suatu peluang dalam berwirausaha ? disini akan dibahas mengenai seseorang yang melihat peluang usaha tersebut.
Usaha pecel lele dengan tampilan khas warung beratap terpal dan berselubung kain lebar bergambar lele, ayam, dan hiasan lainnya mudah dijumpai dipinggir jalan. Gampang pula mengira bahwa persaingan dibisnis kuliner berbahan ikan bersungut demikian ketat, terlebih bagi pemain baru.
Namun bagi Rangga Umara, karyawan di perusahaan developer, bisnis kuliner lele justru dia pilih pada Desember 2006. Usaha ini dipilih begitu dia merasa bahwa dikenai pemutusan hubungan kerja oleh perusahaannya tinggal menunggu giliran. Proyek yang menjadi tulang punggung perusahaan memang tersendat, kredit dari bank pun belum cair.
Bisnis berjualan masakan berbahan lele dipilih karena produk tersebut telah dikenal luas. Menurut Rangga, pilihan terhadap produk seperti ini menguntungkan bagi pebisnis spemula seperti dirinya karena tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi untuk mengedukasi pasar. “ saya sudah niatkan waktu itu, pecel lele harus naik derajatnya kalau bisa seperti KFC, “ ujar Rangga, ditemui di kantor pusat Lele Lela di Kalimalang Jakarta.
Dia namakan usahanya Lele Lela, selain permainan rima yang enak di dengar, lela juga bermakna lebih kaku. Sebentuk doa berbalut doa positif.
Dia mengawali usaha dari sebuah warung kontrakan di Pondok Kelapa, dilokasi yang menjorok ke dalam sehingga tidak banyak dilihat calon pembeli. Akibat lokasi usaha tidak strategis, Rangga harus merugi pada bulan-bulan pertama usahanya. Omzet perhari terkadang hanya Rp. 20.000 sehingga untuk membayar gaji para karyawan pun terpaksa berutang.
Duka mengawali usaha tidak membuat dia putus asa. Rangga menyadari bahwa awalnya pun dia memulai usaha dengan modal terbatas. “ seingat saya tidak sampai Rp 1 juta karena etalasenya second. Tabung gas juga dari orangtua,” tuturnya.
Menurut Rangga, dia kuat menahan fase berat itu karena terus berfokus pada peluang, bukan pada masalah. Dia pu berpikir mencari mitra yang memiliki lokasi strategis. Akibat keterbatasan modal dia menggunakan strategi yang disebut Gerakan Warung Sepi yakni mencari warung yang sepi tetapi lokasinya strategis. “Menu pun terus dikembangkan, ada pecel lele, ayam bakar madu, dan lele goreng tepung. Cuma awalnya waktu itu belum ada fillet. Fillet itu bagian dari pengembangan inovasi produk,” katanya. Usaha lele lela memiliki prosedur operasi standar untuk menjaga konsistensi mutu dan rasa produk yang dijual di sekian banyak gerai tersebut.

Sumber Referensi : Koran Kompas, Senin 24 September 2012

Selasa, 02 Oktober 2012

Menggugat Sistem Alih Daya



Menggugat Sistem Alih Daya
Bertentangan dengan doktrin neoliberal, pilihan sebuah pemerintah terhadap system alih daya bukanlah sebuah konsekuensi yang tak terhindarkan tetapi lebih menyangkut pilihan politik pemerintah bersangkutan.Doktrin neoliberal berupaya menihilkan campurtangan pemerintah dalam ekonomi.Namun, dalam hal alih daya justru kapitalis meminta pemerintah terlibat jadi fasilitator, membantu mereka mengekspolitasi buruh dengan adanya izin alih daya yang dikeluarkan pemerintah.
Praktik alih daya memang sudah eksis di semua Negara, tetapi kebijakannya berbeda satu dengan yang lain. Arus utama ekonomi pasar terbuka global telah memaksa sebuah Negara memilih keunggulan ekonomi yang dikembangkan untuk berkompetisi. Yang tak dimengerti buruh :mengapa Indonesia masih memilih berkompetisi diupah buruh murah atau lebih tepatnya mengapa pemerintah selalu lebih prokapitalis ketimbang proburuh?
Mengapa, misalnya, undang-undang di Filipina, Thailand dan Malaysia hanya mengizinkan penggunaan pekerja kontrak selama enam bulan, tetapi Indonesia membuatnya bias tiga tahun ? mengapa alih daya bias diizinkan kesemua jenis pekerjaan, sementara Negara lain hanya dibatasi secara ketat kejenis pekerjaan tertentu? Mengapa penyimpangan alih daya bias dibiarkan merajalela tanpa tindakan hukum? Kemarahan buruh sebenarnya sudah di titi nadir melihat kenyataan ini.

Sumber referensi : Koran Kompas, senin, 24 September 2012

Jumat, 28 September 2012

Tugas Kewirausahaan


Pengertian Kewirausahaan
Ada berbagai pengertian tentang kewirausahaan antara lain :
Kewirausahaanatau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.  Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu.  Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan. (Zimmerer,1996).
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berfikir kreatif dan berprilaku inovatif yang di jadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. (Soeparman Spemahamidjaja, 1997).
Agar mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausaha adalah:
  • Percaya diri
  • Berorientasikan tugas dan hasil
  • Pengambil risiko
  • Kepemimpinan
  • Keorisinilan
  • Berorientasi ke masa depan
  • Jujur dan tekun
Adapun sifat-sifat seorang wirausaha adalah:
  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik ddan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.
Adapun tahapan-tahapan dalam melakukan wirausaha :
Tahap memulai
Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidangpertanian, industri, atau jasa.
Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Tahap mengembangkan usaha
Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
  • Tidak kompeten dalam manajerial..
  • Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
  • Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas.Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
  • Gagal dalam perencanaan.
  • Lokasi yang kurang memadai.
  • Kurangnya pengawasan peralatan.
  • Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha dll.



Kamis, 27 September 2012

Kepemimpinan Melayani


Kepemimpinan Melayani
Proses demokrasi electoral di Jakarta berjalan lancar dan damai kendati sempat muncul kekhawatiran akan terjadi gangguan keamanan. Perangkat demokrasi, seperti Komisi Pemilihan Umum, Panitia Pengawas Pemilu, dan aparat kepolisian, mampu mengantisipasi dengan baik segala potensi gangguan keamanan di ibu kota. Kita mengapresiasi kematangan dan kedewasaan warga ibukota dalam melaksanakan demokrasi electoral. Enam lembaga survey telah memprediksi keunggulan pasangan “impor” Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dengan 52,97 persen dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli meraih dukungan 47,03 peren. Namun suara rakyat itu harus dikawal dalam perhitungan suara.
Kedewasaan politik ditunjukan Fauzi Bowo yang langsung mengucapkan selamat kepada Joko Widodo setelah sejumlah lembaga survey mengumumkan keunggulan Joko Widodo melalui hitungan cepat. Pengakuan Fauzi meski masih harus menunggu KPU, meredakan ketegangan politik yang sempat terjadi sebelum pemungutan suara. Akan lebih mempercepat proses transisi plotik seandainya fauzi segera mengarahkan birokrai pemerintahan provinsi Jakarta untuk bisa segera bekerja sama dengan pemimpin baru Jakarta. Kesuksesan Joko Widodo melaksanakan programnya juga sangat bergantung pada dukungan dari DPRD dan birokrasi di Jakarta.
Berdasarkan hasil exit poll yang dilakukan Litbang Kompas, warga Jakarta memilih Joko Widodo-Basuki karena pasangan itu dipersepsi public sangat aspiratif. Corak kepemimipinan yang mau mendengar dan gaya komunikasi yang egaliter tanpa protokoler adalah ciri khas model kepemimpinan Joko Widodo. Itulah corak kepemimpinan yang mau melayani warga masyarakat. Melayani warga yang setiap hari didera kemacetan, melayani warga yang menghadapi kesulitan birokrasi, melayani usahawan yang mau mengurus izin usaha.

Sumber referensi : Koran Kompas, senin, 24 september 2012